Pantaskah mereka bilang "WONGE DEWE" ..?

Hampir tiap meter kita jumpai “iklan jual diri” dari para caleg, dengan berbagai macam pose, berbagai slogan, berbagai kata yang meyakinkan para calon pemilih agar memilihkan dia “pekerjaan” yang layak dan terhormat sebagai wakil rakyat. “Wonge dewe”, “Bocahe dewe”, “Tonggo dewe”, “Konco dolan” atau apalagi sejenisnya lah, merupakan kata-kata yang saat ini sangat laris manis, buat promosi para yang terhormat calon wakil rakyat. 

Ya, kata “wonge dewe”, dkk. Yang merupakan bahasa Jawa, yang kurang lebih berarti “orang kita sendiri, teman bermain”, menunjukkan nuansa keakraban, sudah saling kenal, sudah sering bertemu, sudah saling membantu. Iya, dari kata-katanya memang begitu. Tetapi apakah sampai segitunya, para calon wakil rakyat ini mengenal kita beberapa bulan atau setahun yang lalu. Apakah mereka setahun yang lalu atau bahkan 6 bulan yang lalu, sering menghadiri rapat RT, dasawisma, rapat karang taruna, nongkrong di pos ronda, “ngendong/jagong” bayi atau manten..? Apakah mereka ikut terlibat kerja bakti bersih-bersih lingkungan di dusun kita..? Atau yang “enom-enom” ikut futsal bareng, bal-balan bareng..? Tidak juga kan.. Yang bener aja, ente dengan mudah bilang “wonge dewe”, “bocahe dewe”, “tonggo dewe”. 

Terlebih bagi calon-calon legislatif yang tingkatannya DPRD Provinsi ataupun DPR pusat, yang lingkup dapel-nya setingkat kabupaten atau provinsi, rasanya sulit sekali kita mengenal mereka, bahkan bertatap muka langsung dengan mereka. Belum lagi, para caleg yang “neko/nebeng” di dapel kita  sementara mereka berdomisili di luar daerah, kapan mereka bersosialisasi dengan masyarakat di dapel yang “di-dompleng-i”nya..? Salah satu partai, untuk caleg DPR pusat, saya lihat di website http://dct.kpu.go.id/ untuk daerah pemilihan DI Yogyakarta, dari 10 caleg, 9 diantaranya merupakan berdomisili di luar Yogyakarta, seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, dll. Mereka “hanya” memanfaatkan mungkin tempat lahir mereka di Jogja, atau suami/istri mereka orang Jogja, dll. 

Yang saya takutkan nanti, adalah, jika nanti ia terpilih, mereka tetap berdomisili di alamat mereka saat ini. Bagaimana mereka bisa menyerap aspirasi rakyat dari dapel-nya, sementara mereka tetap duduk manis di tempat tinggal mereka. Katakanlah caleg A, terpilih sebagai wakil dari dapel Yogyakarta, sementara ia domisili di Jakarta. Apakah mereka juga berani untuk “pulang kampung”, “blusukan” buat menyerap aspirasi rakyat yang memilih dia dari dapelnya.. ? Saya rasa enggak, mereka akan tetap duduk manis di domisili mereka, dengan alasan dekat dengan “tempat nongkrong” mereka di gedung DPR-RI. Saya melihat, di dapel saya sendiri Yogyakarta, dari beberapa caleg asli berdomisili di Jogja pun,  yang sebelumnya telah terpilih, setahu saya, jarang bahkan kalau boleh dibilang tidak ada sama sekali, untuk turun ke lapisan rakyat tingkat bawah, buat bersosialisasi, mendengar keluh kesah rakyat, mensosialisasikan bagaimana kelanjutan program-program yang mereka dengungkan saat kampanye dulu. Kalaupun turun mungkin hanya masuk ke dalam golongannya, kelompoknya, atau organisasi yang tentu saja hanya menguntungkan kelompok atau organisasinya tersebut. Nah, bisa dibayangkan bagaimana bagi anggota dewan terpilih yang tetap “keukeuh” bertempat tinggal di Jakarta sana, sementara ia mewakili dapel di daerahnya..? Masih pantaskah mereka bilang “wonge dewe” ...? :P

Comments

Popular posts from this blog

Langkah-langkah install aplikasi ujian online berbasis web

Download Aplikasi Ujian Online dengan Codeigniter, Ajax, JSON

Cara setting aplikasi ujian online di jaringan untuk banyak komputer client