Perlunya keseragaman data referensi instansi pemerintah

Perlunya keseragaman data referensi instansi pemerintah

Assalamu’alaikum warah matullohi wabarakatuh. Selamat malam, wuuuh.. asegh.. asegh.. josh.. (copyright : Abdur Arsyad @abdurarsyad SUCI 4, Kompas TV), haha. Malam terakhir bulan April 2014, dan tanggal 1 Mei 2014, libur, hari buruh, untuk semua buruh dan bukan buruh di seluruh Indonesia. Tidak lupa juga, ane mengucapkan “Selamat hari buruh sedunia, termasuk saya juga”. Tetap jaga ketertiban saat demo. Sing penting ora jotos-jotosan, bro. Serasa malam minggu, gan. Everyday is Saturday night.. (only for zoomblo #lol). 

Kembali lagi buat ngisi waktu malem minggu, eh malem Kamis, ane ngebuat postingan ke blog, yang keempat pada bulan April ini, sekaligus menggenapi kuota resolusi 2014, 4 posting perbulan (smilie titikdua huruf P). Kembali lagi, ngrasani mengkritisi perkembangan teknologi informasi di Indonesia, hehe. Tentang data referensi. Apa itu data referensi ..? Data referensi kurang lebih berarti data yang digunakan sebagai acuan data lainnya. Contoh nyatanya, data nama-nama pekerjaan, nantinya akan digunakan sebagai pilihan/referensi dari data penduduk. Seorang penduduk pasti memiliki atribut pekerjaan, maka dapat memilih pada data referensi pendidikan. 

Pemiarsa, tulisan ini tertulis karena campur aduknya, campur baurnya, tidak seragamnya, yang namanya data referensi di Indonesia ini. Sering berkecimpung di dunia data-data, di antaranya data pendidikan, data kepegawaian, dan yang terakhir ini saya juga ikut juga menyelami data penduduk. Data referensi di beberapa data-data tersebut, sangat beragam, dan bermacam. Padahal yang obyek data-nya kurang lebih sama, yaitu manusia. Sebagai sampel data referensi yang sering tidak sama antar satu pendataan adalah data pekerjaan (contohnya : karyawan, wiraswasta, petani, pns, dll), pendidikan (contohnya : sd, smp, sma, d3, s1). Pada data pendidikan misalnya seorang siswa, mempunyai orang tua, dimana ditanyakan data pekerjaannya. Kemudian di data penduduk, ada data pekerjaan juga. Nah, ini yang saya temui, adalah sangat berbeda sekali. Di data pekerjaan orang tua siswa pilihan data-nya adalah : tani, guru, pns, tni/polri, dll (kurang lebih 10 pilihan). Sementara di data penduduk, adalah belum bekerja, mengurus rumah tangga, pelajar, pensiunan, pns, tni, polri, dll (yang jumlahnya sejumlah 89 pilihan). Contoh lain lagi, data pendidikan orang tua siswa, pilihannya : tidak sekolah, sd, smp, sma, d1, d2, d3, s1, s2, s3. Sementara di data penduduk : tidak sekolah, belum tamat sd, tamat sd, tamat smp, SMA, diploma 1/2, diploma 3/sarjana muda, diploma 4/s1, s2, s3. Bahkan yang memprihatinkan gini, saya bekerja di sekolah di bawah Kementerian Agama, otomatis juga sering berhubungan dengan pendaatan di Kementerian Pendidikan. Nah, ada referensi data pekerjaan, masak tidak sama antara Kemenag dan Kemdiknas, padahal yang didata sama yaitu data siswa. Kan repot, kalo misalnya Kemdiknas minta data siswa per pekerjaan orang tua pada sekolah Kemenag, sementara data referensinya beda, harus kerja 2 kali untuk mengkonversi data pekerjaan tersebut. Begitu, gaisss... (copyright Dodis SUCI 4 .. hahaa)

Nah, saran saya, adalah, bagaimana kalau data-data referensi itu diseragamkan, dan bisa dipergunakan di berbagai jenis platform pendataan tersebut. Begini ibaratnya, di data pekerjaan orang tua siswa, pilihan data pekerjaannya sama dengan pilihan data pekerjaan di data penduduk. Jadi terjadi kesinkronan dan dapat saling berguna antara platform data-data tersebut. Misalkan data siswa Kementerian Pendidikan, untuk data orang tua, dapat “meminjam” dari data penduduk-nya Kementerian Dalam Negeri. Kemudian misalnya data haji Kementerian Agama, bisa “mengcopy” dari database-nya penduduk di Kementerian Dalam Negeri tadi. Kan tidak menjadi sebuah pekerjaan yang sangat berat petugas penginput datanya, dan cukup mudah dilakukan. Coba kalau petugas input data haji, harus menginput data lagi, padahal datanya sudah ada di database penduduk. Mungkin yang terjadi adalah arogan dan gengsinya pada “penggedhe-penggedhe” di pusat sana, untuk saling berbagi data. Dan usul saya, mungkin salah satu badan pemerintah yang mengurusi data-data statistik ini, yaitu Badan Pusat Statistik, perlu untuk mengeluarkan Peraturan tentang keseragaman data referensi dan pertukaran data yang harus digunakan di semua instansi, demi efisiensi dan optimasi data. Begitu, pemiarsa. 


Tulisan ini, hanyalah ungkapan kegusaran seorang penginput data-data. Barangkali para penggedhe di sana berkenan membaca, memahami, dan menindaklanjuti kegusaran ini. Atau paling tidak orang-orang yang dekat dengan “penggedhe-penggedhe” bisa menyampaikan. Hehee.. #saya_gusar.. :D


Oh, hiya... Jangan lupa klo membutuhkan WEBSITE PROFIL, WEBSITE SEKOLAH, SISTEM INFORMASI atau APLIKASI LAIN YANG BERBASIS WEB, hubungi ane saja, gan. Hubungi saja lewat YM di samping, atau untuk respon cepat tanggap (kayak PMI) hubungi 0856 4343 7024, SMS OK, telpon OK...
Membuat Log Akses User dengan File di Codeigniter

Membuat Log Akses User dengan File di Codeigniter

Selamat malam pemiarsa. Kembali lagi saya menulis tentang pemrograman PHP lagi, di akhir bulan April 2014 ini. Kasusnya kali ini adalah membuat log akses user, baik dengan media penyimpanan log file .TXT ataupun dengan database. Coretan ini lahir, disebabkan karena pentingnya log user ini, bagi pengembangan sebuah aplikasi, dan disaat nanti ditemui error pada saat user menggunakan program aplikasi yang kita buat. Memang sih, biasanya webserver biasanya telah menyediakan log akses, namun sepanjang yang saya tahu hanya mencatat hal-hal umum, seperti error-error PHP, MySQL ataupun apachenya. Yang kita butuhkan adalah log akses user yang lebih spesifik atau sesuai dengan yang dibutuhkan oleh aplikasi kita. Bayangkan, misalkan aplikasi berbasis web kita disusupi oleh hekel, misalkan ia berhasil mengakses tabel daftar username dan password aplikasi kita, sehingga ia dapat leluasa membuat username baru beserta passwordnya. Kemudian ia login biasa melalui aplikasi yang kita buat. Hal tersebut pasti tidak tercatat di log user yang otomatis terbuat oleh error_log php. 

1. Langsung saja, tanpa cas cis cus, karena saya lebih suka cus cis cas, langkah pertama adalah copy master Codeigniter-nya ke folder webserver saya. Tempat saya di “www” (WAMP-lover, haha).
2. Buat folder baru sejajar folder “application”, dll, dengan nama “capedeh” (ini sebenarnya bebas, tapi agar sinkron dengan tutorial ini, disamain aja dah).
3. Selanjutnya, buat database “lab_”, kemudian buat sebuah tabel dengan nama “pengguna” untuk menyimpan data username dan password untuk login. Cepatnya, kopaskan skrip SQL berikut ini :


CREATE TABLE IF NOT EXISTS `pengguna` (  `id` int(5) NOT NULL AUTO_INCREMENT,  `nama` varchar(50) NOT NULL,  `username` varchar(15) NOT NULL,  `password` varchar(75) NOT NULL,  `tgl_aktif` datetime NOT NULL,  `status` enum('Y','N') NOT NULL,  PRIMARY KEY (`id`)) ENGINE=MyISAM  DEFAULT CHARSET=latin1 AUTO_INCREMENT=2 ;

-- Dumping data untuk tabel `pengguna`
INSERT INTO `pengguna` (`id`, `nama`, `username`, `password`, `tgl_aktif`, `status`) VALUES(1, 'Admin Pusat', 'admin', '21232f297a57a5a743894a0e4a801fc3', '2014-04-28 16:58:30', 'Y');
4. Ubah pengaturan di “application/config/config.php”, baris 17, menjadi  :
$config['base_url'] = 'http://localhost/lab/log_akses/';
5. Ubah pengaturan di “application/config/database.php”, baris 51 – 54, menjadi :
$db['default']['hostname'] = 'localhost';$db['default']['username'] = 'root';$db['default']['password'] = '';$db['default']['database'] = 'lab_';
6. Ubah pengaturan di “application/config/routes.php”, baris 41, menjadi : 
$route['default_controller'] = "apps";
7. Masuk ke folder “application/controllers/”, buat controller baru dengan nama “apps”, isinya sebagai berikut, saya copy pastekan ke pastebin aja, (apps.php) :



8. Buat view untuk login (login.php):


9. Buat view template halaman admin (aaa.php) :


10. Buat view halaman utama (d_amain.php) :

11. Buat view halaman daftar log akses (f_log_akses.php) :

12. Buat view untuk halaman ubah password (f_password.php) :


13. Terakhir, buat di folder "application/helper/" dengan nama file "my_helper.php" :


Sedikit penjelasan mengenai alur program yang saya tulis :
  1. untuk desain dalam tutorial ini adalah menggunakan framework CSS Twitter Bootstrap versi 2.3 (kalo gak salah, yang icon-iconnya udah pake font-awesome) dan file bootstrap.css-nya telah saya modifikasi.
  2. walaupun Codeigniter, merupakan framework berbasis MVC, namun dalam tutorial ini (dan juga semua program CI) saya hanya memakai VC-nya, M-nya tidak saya pakai, soalnya ribet, gan.. hahaha #myCode_myStyle :D :D jangan dibully, ya mastah..
  3. saya menggunakan helper "my_helper.php" dalam rangka mempersingkat proses tulis dan buat file log secara otomatis. ada 3 fungsi dalam "my_helper.php", yaitu _tulis_f($data, $file), untuk menuliskan log ke dalam file yang telah ditentukan, _buat_baru($user, $file), untuk membuat file log baru, jika ternyata file log yang ditentukan tidak ditemukan (sekaligus menghindari error Codeigniter), dan terakhir fungsi detect(), yang digunakan untuk mendeteksi nama browser, versi browser, dan operating system dari user yang sedang menggunakan aplikasi. Walupun sebenarnya CI udah menyediakan, tapi agak panjang2 nama variabelnya.

Untuk download script secara lengkap dapat didownload melalui link berikut ini :

Download skrip

Untuk melihat demo dapat dilihat pada link berikut ini :

Demo program 

Terim kasih.. :) #keep_Ngoding
Review Kamera Poket Canon PS A2500

Review Kamera Poket Canon PS A2500

Selamat pagi, pemiarsa sekalian. Mengisi bulan April, ane kembali lagi menulis di blog saya tercinta ini. Setelah bulan Februari dan maret, tidak memenuhi target 4 postingan per bulan, ane memilih mencoba untuk setia mengisi blog ini (eh, patin). Bulan maret hanya 1 postingan, merupakan bulan termalas saya mengisi blog ini. Alhamdulillah, oleh Alloh SWT diberi banyak kesibukan buat menyambung hidup.

Bulan April ini, ane punya mainan baru, gan. Sebuah kamera digital, merek Canon, tipe Powershoot A 2500. Iya, didasari akan penasaran dengan yang namanya dunia fotografi, dunia jepret sana-jepret sini, ane memutuskan untuk membeli sebuah kamera digital. Walaupun mungkin sangat terasa kesan amatiran-nya, ya begitulah namanya belajar, harus dimulai dari hal-hal yang paling kecil. Nah, dalam dunia fotografi, dari segi alat, yang paling sederhana saat ini adalah menggunakan kamera saku atau kamera pocket. Banyak sekali referensi yang ane baca, sehingga ane memutuskan untuk memilih kamera pocket. salah satunya adalah di blog : http://pocketografi.blogspot.com/. Dari situ ane lihat banyak sekali sampel-sampel foto hasil jepretan dengan kamera pocket yang ternyata tidak kalah jauh sekali dengan kamera DSLR yang harganya bisa sama dengan harga 1 ekor sapi metal di dusun ane. hahaha. Terus lagi, baca-baca referensi di google, dengan kata kunci "tips memotret dengan kamera saku" disitu banyak ditemukan tips dan trik memotret dengan kamera saku, yang bisa mendapatkan hasil luar biasa, jika kita telah mengetahui teori-teori dasar fotografi-nya. Sebagai website yang lengkap, pertama ane rekomendasikan website http://belfot.com/.

Oh, iya, kebanyakan pengantar, sampai lupa maksud dan tujuan tulisan ini, untuk me-review Kamera Saku Canon Powershoot A2500 ini. Kamera ini ane dapatkan seharga Rp 800.000 (delapan ratus ribu rupiah), saat pameran komputer Mega Bazaar Komputer tanggal 8-12 Maret 2014 lalu di Jogja Expo Center. Bonusnya, banyak sekali gan, diantaranya topi, SD card ato MMC itu ane kurang tahu 8 GB, tas kameranya, trus sama dipasangin screen protector-nya. Ada juga, tambahan bonusnya lagi, yaitu gratis foto dan cetaknya di situ, namun tidak ane ambil.. (isin'e bro..). Tapi ane rada kurang sreg, pas dicoba disitu batrenya kok sudah habis, nah mau dicoba gak ada stock batere yang ready to use gak ada, jadinya harus di-charge di situ dulu. Kemudian oleh penjualnya di-charge di situ ndak sampe 1 jam, sudah dicabut. Yang ane tahu, untuk batere baru kan minimal 2 jam ato berapa gitu, baru dicabut..

Sampai rumah, ane buka dosnya, ane pastikan lengkap isi dan aksesorisnya. Langsung ane coba ngidupin kameranya, luar biasa.. Kamera digital pertama ane ini. Dulu yang namanya kamera pas jamannya kamera pake film, jarang lho, orang punya kamera di dusunku. Sekarang ane dah gede, udah bisa megang milik ane sendiri (kameranya, bro..). Mulai melihat menu-menu dalam kamera, yang sebagaian besar, belum tahu fungsinya. Tombol yang ane kenal baru tombol shooter, zoom, dan melihat hasil kamera (icon play).. hehe.. gaptek abis.. Spesifikasinya kurang lebih kek gini :

  1. Optikal zoom 5x (kamera digital paling baik adalah kamera dengan optikal zoom tinggi, faktof x-nya, karena hasil gambarnya detilnya lebih bagus). Sementara digital zoom-nya adalah 4x. Jadi patut waspada jika di kamera digital, tertulis zoom kameranya 10 x, bisa jadi itu optikal zoomnya bisa 6x, sementara 4x-nya adalah digital zoom.
  2. Megapixelnya adalah 16 Megapixel. (Pernah ane lihat kamera DSLR dengan hanya memakai 12 megapixel, sementara kamera digital kok sampai lebih besar megapixelnya)
  3. LCD 2,7 inch. Kata orang pintar, lebih besar LCD, lebih boros batere. Jadi ukuran lcd segini ane kira cukuplah..
  4. ECO mode, fitur yang memungkinkan kamera menghemat penggunaan batere.
  5. Digital IS (IS = image stabilizer), semacam fitur untuk mengurangi efek getaran pada gambar, saat kita membidik obyek. Bisa dipastikan, saat anda membidik obyek, tangan ada agak gemetaran gitu. Nah, fitur ini membantu Anda untuk mengurangi efek getaran ini. Dan memang setelah ane coba, memang ada beda hasil antara make IS dan tanpa IS. Namun dengan mengaktifkan IS ini, pemrosesan gambar jadi ada jeda beberapa detik.
  6. Help hint, atau sebuah petunjuk mengenai fungsi menu-menu yg kita pilih. Cukup dengan menekan tombol tanda tanya (?), maka akan muncul kegunaan/keterangan mengenai menu yg sedang kita pilih. Sangat berguna sekali bagi yang pertama kali memegang kamera digital seperti saya.
  7. Keawetan batere katanya 200 jepretan per 1x charge. Namun sepertinya tidak pada kamera yg saya miliki. Kelihatannya hanya sampai 150x jepretan, sudah "kelap-kelap" batere 1 bar. Nah, kemarin sempat baca-baca juga, kalo sebaiknya batere dilepas jika tidak digunakan dalam waktu yang agak lama (agak lamanya ini, ane juga kurang tahu, klo ane, setelah ane pake motret, trus ane diemin sampai lebih dari 6 jam, ane lepas). Walaupun kita sudah menekan tombol kamera off, itu tidak menjamin kamera sudah off beneran, tapi itu sepertinya masuk mode standby..
Kira-kira itu gan, sedikit review salah satu dari 10 kamera digital terbaru 2013, Canon Powershoot A 2500. Banyak bahasa yang aneh dan sulit dimengerti ane mohon maaf, maklum newbie.. :) ehehe.. Untuk hasil jepretan saya, bisa dilihat di album facebook saya di link berikut ini : 


Terimakasih, wassalam.. parengg..... :)
Pantaskah mereka bilang "WONGE DEWE" ..?

Pantaskah mereka bilang "WONGE DEWE" ..?

Hampir tiap meter kita jumpai “iklan jual diri” dari para caleg, dengan berbagai macam pose, berbagai slogan, berbagai kata yang meyakinkan para calon pemilih agar memilihkan dia “pekerjaan” yang layak dan terhormat sebagai wakil rakyat. “Wonge dewe”, “Bocahe dewe”, “Tonggo dewe”, “Konco dolan” atau apalagi sejenisnya lah, merupakan kata-kata yang saat ini sangat laris manis, buat promosi para yang terhormat calon wakil rakyat. 

Ya, kata “wonge dewe”, dkk. Yang merupakan bahasa Jawa, yang kurang lebih berarti “orang kita sendiri, teman bermain”, menunjukkan nuansa keakraban, sudah saling kenal, sudah sering bertemu, sudah saling membantu. Iya, dari kata-katanya memang begitu. Tetapi apakah sampai segitunya, para calon wakil rakyat ini mengenal kita beberapa bulan atau setahun yang lalu. Apakah mereka setahun yang lalu atau bahkan 6 bulan yang lalu, sering menghadiri rapat RT, dasawisma, rapat karang taruna, nongkrong di pos ronda, “ngendong/jagong” bayi atau manten..? Apakah mereka ikut terlibat kerja bakti bersih-bersih lingkungan di dusun kita..? Atau yang “enom-enom” ikut futsal bareng, bal-balan bareng..? Tidak juga kan.. Yang bener aja, ente dengan mudah bilang “wonge dewe”, “bocahe dewe”, “tonggo dewe”. 

Terlebih bagi calon-calon legislatif yang tingkatannya DPRD Provinsi ataupun DPR pusat, yang lingkup dapel-nya setingkat kabupaten atau provinsi, rasanya sulit sekali kita mengenal mereka, bahkan bertatap muka langsung dengan mereka. Belum lagi, para caleg yang “neko/nebeng” di dapel kita  sementara mereka berdomisili di luar daerah, kapan mereka bersosialisasi dengan masyarakat di dapel yang “di-dompleng-i”nya..? Salah satu partai, untuk caleg DPR pusat, saya lihat di website http://dct.kpu.go.id/ untuk daerah pemilihan DI Yogyakarta, dari 10 caleg, 9 diantaranya merupakan berdomisili di luar Yogyakarta, seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, dll. Mereka “hanya” memanfaatkan mungkin tempat lahir mereka di Jogja, atau suami/istri mereka orang Jogja, dll. 

Yang saya takutkan nanti, adalah, jika nanti ia terpilih, mereka tetap berdomisili di alamat mereka saat ini. Bagaimana mereka bisa menyerap aspirasi rakyat dari dapel-nya, sementara mereka tetap duduk manis di tempat tinggal mereka. Katakanlah caleg A, terpilih sebagai wakil dari dapel Yogyakarta, sementara ia domisili di Jakarta. Apakah mereka juga berani untuk “pulang kampung”, “blusukan” buat menyerap aspirasi rakyat yang memilih dia dari dapelnya.. ? Saya rasa enggak, mereka akan tetap duduk manis di domisili mereka, dengan alasan dekat dengan “tempat nongkrong” mereka di gedung DPR-RI. Saya melihat, di dapel saya sendiri Yogyakarta, dari beberapa caleg asli berdomisili di Jogja pun,  yang sebelumnya telah terpilih, setahu saya, jarang bahkan kalau boleh dibilang tidak ada sama sekali, untuk turun ke lapisan rakyat tingkat bawah, buat bersosialisasi, mendengar keluh kesah rakyat, mensosialisasikan bagaimana kelanjutan program-program yang mereka dengungkan saat kampanye dulu. Kalaupun turun mungkin hanya masuk ke dalam golongannya, kelompoknya, atau organisasi yang tentu saja hanya menguntungkan kelompok atau organisasinya tersebut. Nah, bisa dibayangkan bagaimana bagi anggota dewan terpilih yang tetap “keukeuh” bertempat tinggal di Jakarta sana, sementara ia mewakili dapel di daerahnya..? Masih pantaskah mereka bilang “wonge dewe” ...? :P