Tunjukkan Indonesia-mu dengan domain .ID


Nama domain atau lebih sering disebut dengan alamat website, mempunyai peran yang sangat vital bagi pencitraan suatu perusahaan, produk, tokoh, atau intansi pemerintah. Sudah menjadi keharusan bagi pemilik website yang baik bahwa nama domain adalah yang mudah diingat, unik dan sesuai dengan bidang yang dijalankan pemilik website. Nah, hubungannya dengan rasa nasionalisme sebagai warga negara Indonesia, dan sebagai identitas bangsa Indonesia, di dunia per-domain-an kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, alangkah bijaksananya bila menggunakan domain dengan Top Level Domain  [dot] ID. Top level domain (TLD) atau Domain Tingkat Tinggi (DTT) dalam bahasa Indonesia,  adalah tingkatan tertinggi dalam kepemilikan domain tersebut. Cara mudahnya, jika domain tersebut hanya ada satu kata di belakang tanda titik (dot) setelah nama domain maka itu termasuk dalam domain TLD. Sebagai contoh namasaya.com, jualbeli.com. Sedangkan Second level domain (SLD) atau Domain Tingkat Dua (DTD) adalah domain satu level di bawah TLD. Ditandai dengan adanya 2 titik (dot) setelah nama domain.

Nah, beberapa waktu yang lalu, domain dengan TLD [dot] ID ini baru saja di-launching untuk digunakan bagi masyarakat umum. Permintaan masyarakat akan domain dengan TLD [dot] ID yang sangat tinggi merupakan alasan dibukanya jenis domain ini. Selama ini masyarakat Indonesia hanya bisa menggunakan domain ID hanya sebatas pada Second Level domain (SLD), seperti .co.id, .go.id, .ac.id, .net.id, .web.id, .biz.id, .my.id, .or.id, .mil.id, desa.id. Dengan dibukanya TLD [dot] ID ini kita bisa menggunakan nama domain dengan format namawebsite.ID, namaperusahaan.ID, nurakhwan.ID. Dengan dibukanya nama domain seperti ini, kita sudah sejajar dengan negara lain yang telah menggunakan TLD seperti .US, .SG, .JP.  

Bagaimana dengan syarat-syaratnya? Pertama, adalah nama domain minimal harus 5 karakter. Misalnya kr.id, kaskus.id. Khusus nama domain personal harus terkait dengan kartu identitas (KTP), misalnya nurakhwan.id. Sedangkan untuk perusahaan boleh mendaftarkan nama merk sesuai yang terdaftar di Dirjend Hak Kekayaan Intelektual (Ditjend HAKI) Kemenkumham. Kalaupun tidak terdaftar, pendaftar harus rebutan dengan pendaftar lain, atau dengan kata lain siapa cepat dia dapat. Sedangkan untuk nama instansi pemerintahan otomatis akan mendapatkan nama domain [dot] ID, seperti kemenag.id, kominfo.id, kemdiknas.id. 

Mekanisme pendaftaran domain [dot] ID ini dibagi menjadi 3 periode, Pertama, periode Sunrise, dikhususkan bagi pemegang merk yang terdaftar di Ditjend HAKI, dengan biaya administrasi 500.000, biaya akuisisi 5.000.000, biaya tahunan 500.000 atau total  6.000.000. Waktunya adalah 20 Januari – 17 April 2014. Kedua, periode Grandfather, diperuntukkan bagi domain Second Level Domain ID, yang sudah terdaftar/sudah aktif sebelumnya, dengan biaya administrasi 250.000, biaya akuisisi 2.500.000, biaya tahunan 500.00 atau total 3.250.000. Periode waktunya dari tanggal 21 April – 13 Juni 2014. Ketiga adalah periode Landrush, diperuntukkan bagi semua orang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan domain [dot] ID. Biayanya total sebesar 1.600.000, dengan rincian biaya administrasi 100.000, biaya akuisisi 1.000.000 dan biaya per tahun 500.000. Waktunya dari tanggal 16 Juni – 15 Agustus 2014. Periode setelahnya adalah periode General Avalibility, mulai tanggal 17 Agustus 2014, dengan biaya 500.000.
Terkesan sangat mahal memang, bagi kita konsumen pribadi seperti  blogger, pemilik web pribadi yang biaya tahunannya paling murah hanya 50.000. Ini disebabkan karena PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia) memang menyasar domain ID di kalangan industri /pemilik merk , sehingga harganya jauh di atas pasaran. Namun saya percaya dan yakin, suatu saat nanti harga domain ini akan semakin “merakyat”. 

Penggunaan domain ini sebenarnya juga menguntungkan bagi bangsa Indonesia. Jika pakai dot com, maka uang yang lari ke luar negeri sebesar US$ 10. Sedangkan jika menggunakan domain dot ID, hanya US$ 1 yang lari ke luar negeri.  Jadi akan kembali lagi ke dalam negeri. Disamping itu, dengan pengelolaan di dalam negeri dan secara mandiri, kata Andi, maka trafik menjadi lebih cepat, lebih hemat bandwidth dibandingkan server domain yang berada di luar negeri. Kita Untung, Bangsa Untung, bukan..?

Comments

Popular posts from this blog

Langkah-langkah install aplikasi ujian online berbasis web

Download Aplikasi Ujian Online dengan Codeigniter, Ajax, JSON

Cara setting aplikasi ujian online di jaringan untuk banyak komputer client