Koruptor tanpa pengacara, bisakah memberi efek jera..?


[Nyoba nulis tentang masalah sosial, gan... hahaha]

Korupsi telah menjadi sebuah kejahatan yang sangat umum dilakukan di Indonesia. Hampir setiap hari kita disuguhi berita korupsi ini, korupsi itu, orang ini terlibat di kasus ini, kemudian terlibat di kasus itu. Ibaratnya media masa baik cetak maupun elektronik, tidak akan kehabisan bahan berita, karena banyak yang bisa diulas dari kasus-kasus korupsi ini. Nyaris, di segala sendi kehidupan bernegara ini, ada saja celah yang bisa dimasuki kejahatan ini. Dari segi kuantitas,  dari korupsi yang hanya bernilai jutaan rupiah, sampai yang beratus-ratus milyar, ada semuanya di Indonesia. Dari segi tersangkanya, yang umumnya didominasi oleh kalangan birokrat, mulai dari kepala desa, camat, bupati, bahkan calon bupati, polisi, jenderal, menteri, ketua umum partai, duaaan lain sebagainya. Yah, seperti syair terakhir lagu "dari Sabang sampai Merauke.." : Itulah Indonesiaa......

Parahnya lagi, (di Indonesia ini) budaya korup ini, di mata pelaku korupsi, sudah bukan lagi merupakan sebuah perbuatan melawan hukum yang dipandang negatif oleh masyarakat. Perilaku korupsi ini telah turun-temurun menjadi budaya negatif yang menjangkiti setiap proses kehidupan bernegara. Pelaku korupsi yang lazim disebut koruptor pun, sangat berbeda perlakuannya di mata hukum dengan pelaku kejahatan lainnya. Koruptor yang notabene 100 % sama dengan maling, sangat berbeda sekali perlakuan hukumnya. Koruptor, saat ditetapkan sebagai tersangka, ditangkap dengan baik-baik, tanpa dihakimi masa lebih dulu, kemudian disyuting, di-jeprat-jepret sana sini dengan pose bibir masih cengengas-cengenges, muka berseri-seri dan lambaian tangan bak selebriti papan atas, sangat berbeda sekali dengan apa yang dialami oleh sama-sama maling, misalkan maling ayam. Mereka harus rela untuk dijadikan bahan praktek karate dan tinju, disyuting dan dijepret wartawan dengan kondisi muka lebam, berdarah-darah di sana-sini, muka menunduk, tangan diborgol. Padahal dari jumlah yang di-maling, sangatlah tidak sebanding antara hasil me-maling koruptor dengan maling ayam.

Ancaman hukuman bagi koruptor sama sekali tidak memberikan efek jera bagi pelaku korupsi ini. Hukuman kurungan maupun hukuman denda yang diterima pelaku korupsi seringkali tidak sebanding dengan kerugian yang dialami oleh negara dan rakyat Indonesia. Bahkan penjara bukanlah merupakan tempat yang angker dan mengerikan bagi pelaku kejahatan korupsi ini. Nyatanya, di dalam tahanan untuk koruptor ini, bukanlah merupakan hotel prodeo, namun hotel beneran, dimana di tempat itu, ada salon, ada TV, AC, kulkas, internet dan peralatan mewah lainnya yang bisa memberikan rasa nyaman bagi penghuninya.

Berbagai macam trik dilakukan penegak hukum untuk memberikan rasa malu kepada koruptor ini. Salah satunya adalah dengan memberikan jaket putih khusus koruptor. Ya, memang bisa memberikan efek malu bagi koruptor yang nyatanya tidak mempunyai ke-maluan ini. Yang kita harapkan adalah bukan malunya koruptor, ini tetapi sebuah hukuman yang sangat setimpal dengan apa yang diperbuatnya.

Masalah hukuman, pada saat proses persidangan merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam penjatuhan vonis hukuman bagi koruptor. Nah, saya sebagai masyarakat awam (bukan ahli hukum) yang hanya bisa melihat, merasakan dan menilai , menganggap bahwa kehadiran pengacara yang mendampingi pelaku korupsi sepertinya juga mempengaruhi proses penjatuhan vonis. Pengacara juga mempunyai peran penting dalam mempengaruhi opini publik terhadap citra pelaku korupsi yang di-acarai-nya. Otomatis ia juga harus mencitrakan yang baik-baik terhadap klien-nya, sebisa mungkin agar klien-nya dianggap tidak bersalah, bersih dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Bahkan saat persidangan adapula yang harus bela-belain harus berdebat, marah-marah, saling gertak dengan petugas sidang, saksi, dan lainnya, hanya untuk mem-benarkan dan memenangkan kliennya. Lengkapnya Pengacara selain sebagai Juru Bicara klien-nya ia juga sebagai pembela atas segala tuduhan kepada kliennya.

Melihat dari berbagai sikap dan perilaku pengacara ini, saya memberikan sebuah usulan tentang PENGHAPUSAN HAK MENDAPATKAN PENGACARA BAGI TERSANGKA KORUPSI. Hahaha.. mungkin sebuah ide konyol dan ngawur, yang pastinya sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Ngawur dan konyol karena dari berbagai referensi yang saya baca, yang namanya  Tersangka/Terpidana mempunyai hak untuk didampingi oleh seorang pengacara. Namun menurut pendangan saya,Bahkan sampai  mereka malah sering bertindak yang berlebihan, tidak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Mereka sering memberikan pembelaan yang tidak sewajarnya dan cenderung arogan. Pengacara, menurut sumpah jabatannya ia harus bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab berdasarkan hukum dan keadilan. Ia juga harus bersikap, bertingkah laku, bertutur kata, atau mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan sikap hormat terhadap hukum, peraturan perundang-undangan, atau pengadilan.

Beberapa waktu yang lalu pernah ada pernyataan kontroversial Pak Deni Indrayana tentang pengacara koruptor adalah koruptor itu sendiri. Dalam klarifikasi akhirnya, Pak Deni meminta maaf kepada para pengacara namun hanya untuk Pengacara yang bersih (detik.com).. Hahaha.. mukegilee gokil, pak, setuju, sekali pak, pendapat saya dalam hati. Saya beranggapan bahwa pengacara ada 2, yaitu yang bersih dan tidak bersih. Nah mungkin pengacara yang tidak bersih (yang tidak didasari lagi hati nurani, namun lebih kepada materi, maju tak gentar, membela yang bayar) inilah yang menghambat proses pemberantasan korupsi di Indonesia ini.

Mungkin ini hanya sebuah gagasan kecil, ngawur dan konyol dari seorang pemuda yang sudah muak akan perilaku para koruptor yang seakan tidak punya salah, dan hari demi hari tidak juga berkurang jumlahnya, namun senantiasa bertambah.. #SALAM GANTUNG_DI_MONAS...!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Download Aplikasi Ujian Online dengan Codeigniter, Ajax, JSON

Langkah-langkah install aplikasi ujian online berbasis web

Cara setting aplikasi ujian online di jaringan untuk banyak komputer client